Wajah Transportasi Jakarta

Jumat, 14 Januari 20112komentar


Macet, itulah yang terjadi setiap hari di ibu kota Jakarta. Banyaknya fasilitas, investasi, dan perputaran uang di Jakarta telah memikat orang-orang dari berbagai pelosok nusantara untuk berbondong-bondong datang mengadu nasib ke Jakarta.  Alhasil, Jakartapun semakin penuh sesak dengan manusia. Pemasalahan yang muncul pun semakin kompleks dan rumit, mulai dari kemacetan, banjir, kriminalitas, PKL, hingga  masalah-masalah perkotaan lainnya yang sepertinya sangat sulit untuk diatasi. Dengan luas wilayah  Jakarta sekitar 661 km2 kini disesaki oleh kurang lebih 9,5 juta jiwa  penduduk. Belum lagi dengan para penglaju dari Tangerang, Bogor, Depok, dan Bekasi yang tiap harinya masuk memenuhi Jakarta. Jakarta bersama daerah penyangganya kini masuk dalam jajaran  sepuluh besar kota dengan jumlah penduduk terbanyak sedunia.
                Masalah kemacetan seringkali menjadi topik bahasan dalam berbagai perbincangan, tapi hingga saat ini belum ada yang sanggup untuk memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan ini, paling tidak untuk mengurangi kemacetan yang terjadi tiap hari di berbagai sudut ibukota, terutama pada jam-jam sibuk, seperti  berangkat dan pulang kerja. Sejumlah kebijakan telah dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, misanya kini telah dilakukan perubahan jam masuk sekolah menjadi lebih pagi, yakni pukul 6.30 agar siswa-siswa sekolah tidak berangkat ke sekolah bersamaan dengan waktu para pekerja berangkat ke tempat kerjanya. Kemudian beberapa waktu yang lalu Pemprov DKI Jakarta juga kembali menghembuskan kabar akan adanya pembedaan jam masuk kerja untuk lima wilayah di ibukota , sehingga diharapkan kemacetan akan terpecah . Akan tetapi, wacana tersebut sampai sekarang belum terealisasi, padahal wacana itu sebenarnya sudah sejak lama dilemparkan kepada publik.Selain menempuh kebijakan-kebijakan itu, Pemprov DKI Jakarta telah lama merencanakan pembangunan sarana angkutan umum massal untuk mengurangi para pengguna kendaraan pribadi yang setiap harinya selalu bertambah. Namun, rencana tinggallah rencana. Hingga saat ini proyek subway dan monorel masih belum jelas kapan akan dimulai. Memang setiap ada perencanaan pembangunan infrastruktur di negeri ini hampir dapat dipastikan bahwa pelaksanaannya akan molor dari waktu yang telah direncanakan sebelumya. Proyek waterway yang pernah diluncurkan beberapa waktu lalu kurang diminati masyarakat lantaran sungai-sungai di Jakarta yang bau dan mambawa sampah di sana-sini. Jadilah proyek busway menjadi satu-satunya proyek angkutan umum massal yang telah dijalankan oleh Pemprov DKI. 
 
http://www.rakyatmerdeka.co.id
Kini sudah ada sepuluh koridor dari lima belas koridor busway yang direncanakan. Namun, sekarang patut kita pertanyakan apakah proyek busway ini benar-benar telah mengurangi kemacetan di Jakarta. Keberadaan busway yang mencaplok satu jalur jalan dituding justru menambah kemacetan. Baru-baru ini busway koridor IX dan X diluncurkan, dan yang terjadi justru kemacetan di jalur-jalur yang dilaluinya bertambah parah.  Memang harapannya pengguna kendaraan pribadi akan beralih menggunakan bus transjakarta yang bisa melaju di tengah kemacetan itu, tapi apakah kenyataannya kini telah sesuai dengan tujuan semula?  Selain membangun busway, Pemprov DKI seharusnya lebih serius lagi memikirkan kendaraan feeder bagi para penumpang yang tidak memiliki akses langsung terhadap bus transjakarta. Meskipun kini busway telah memiliki sepuluh koridor, tetapi sebagian besar warga tak dapat langsung naik busway lantaran rumahnya jauh dari halte busway yang ada.
Posisi kendaraan feeder menjadi strategis karena peran pentingnya sebagai pengumpan penumpang. Bayangkan saja, sebagian besar trayek busway berada di tengah kota, sementara warga yang berasal dari daerah pinggiran dan penyangga tentu hanya akan menggunakan sarana transportasi yang melewati lingkungan tempat tinggal mereka. Kondisi yang terjadi kini, untuk dapat sampai ke tempat tujuan di pusat kota, para  warga pinggiran ini harus bergonta-ganti moda transportasi, selain ongkos yang dikeluarkan banyak, kena macet pula. Sementara kondisi sebagian besar bus-bus kota di Jakarta masih jauh dari kesan nyaman. Seperti dapat dilihat di jalanan ibukota, bus-bus tua masih ‘menghiasi’ jalan-jalan di Jakarta. Selain busnya kurang nyaman, setiap jam sibuk  bus-bus itu selalu penuh sesak dengan para penumpang. Tentu saja bos-bos anti menggunakannya. Jangankan para bos, orang-orang biasa pun banyak yang lebih memilih menggunakan motor untuk bepergian. Selain lebih murah dan tidak perlu bergonta-ganti bus, juga karena pengguna motor dapat sampai ke tujuannya lebih cepat.
Memang saat ini Pemprov DKI  telah merencanakan perubahan sejumlah trayek bus kota menjadi feeder busway, tetapi perlu juga diperhatikan kenyamanan penumpang yang akan menggunakannya. Maka dari itu, saya berharap Pemprov DKI juga menaruh perhatian pada upaya peremajaan bus-bus tua dan memanfaatkannya sebagai feeder bagi sarana angkutan umum massal yang dibangunnya. Dengan adanya sarana angkutan umum yang nyaman dan telah terintegrasi dengan baik, maka dengan sendirinya masyarakat akan berbondong-bondong untuk menggunakannya.  Apa gunamya subway dan monorel jika masyarakat tidak merasa nyaman dan kesulitan untuk mencapainya. Ujung-ujungnya masyarakat lebih memilih untuk  menggunakan motor atau kendaraan pribadi untuk bepergian.




Share this article :

+ komentar + 2 komentar

27 Januari 2011 18.34

emang macet dah jadi kebudayaan mas...hehe
lah wong kalo saya ke jakarta timur aja pas sepi bisa satu jam, tapi pas macet bisa 4-5 jam...
enakan pake helikopter kayaknya...hehe

28 Januari 2011 08.24

enakan pake pintu kemana saja ato baling2 bambu hehehe....

Poskan Komentar

Monggo bagi yang mau berkomentar, silakan mengisi kotak di bawah ini :)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yusuf Abdurrohman - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger