Refleksi 266 Tahun Kota Solo

Kamis, 17 Februari 20110 komentar


Hari ini Kamis, 17 Februari 2011 Kota Surakarta atau yang lebih populer disebut sebagai Kota Solo genap berusia 266 tahun. Dinamika kehidupan kota ini terus berubah mengikuti perkembangan zaman yang memang terus berubah. Dari sebuah desa kecil di tepi sungai Bengawan Solo lalu menjadi ibu kota Kerajaan Mataram pada 266 tahun yang lalu, dan akhirnya meski bukan berstatus sebagai ibu kota kini Solo telah berkembang menjadi sebuah kota besar, dalam beberapa tahun ke depan mungkin Solo akan masuk dalam daftar kota metropolitan di pulau Jawa. Perkembangan kota Solo beberapa tahun terakhir ini  telah menunjukkan perkembangan ke arah itu.
Sebagai kota bekas pusat pemerintahan kerajaan Mataram, Solo diakui sebagai pusat kebudayaan Jawa di samping Yogyakarta. Kota ini juga memiliki banyak warisan budaya yang masih terjaga hingga saat ini. Selain bangunan-bangunan tua yang berarsitektur Jawa, Cina, dan Eropa yang tersebar di sejumlah sudut kota, sejumlah produk-produk budaya juga masih tetap hidup dan dijaga kelestariannya, seperti batik, wayang, gamelan, keris, tari tradisonal, masakan khas, dan lain sebagainya. Tak salah jika sejak tahun 2006 lalu Solo resmi diakui oleh Unesco sebagai kota warisan dunia, sebuah predikat yang jarang dimiliki oleh kota lainnya di Indonesia. Namun, upaya pelestarian budaya memerlukan perhatian yang serius, sebab serbuan budaya asing tak pelak telah membuat banyak generasi muda tak begitu akrab dengan budaya nenek moyangnya sendiri.
Menyelaraskan dengan perkebangan zaman, meski awalnya merupakan kota tradisional yang lekat dengan kebudayaan masa lalu Kota Solo kini terus membangun dan berkembang menjadi sebuah kota modern. Walau sempat terpuruk akibat krisis ekonomi dan kerusuhan pada tahun 1998  dan 1999, kini kota ini terus tumbuh dengan pesat. Secara administratif luas Kota Solo terbilang sempit untuk ukuran  kota besar, yakni hanya 44 km2,  tapi dengan jumlah penduduk yang telah mencapai angka 500 ribu jiwa kota ini merupakan kota terpadat di Jawa Tengah. Namun, kota Solo tak hanya tebatas pada wilayah administratifnya, secara fisik kota ini telah berkembang dan melebar jauh dari batas-batas administratifnya dan membentuk satu kesatuan kota yang lebih besar dan luas.
 
Solo Paragon, gedung tertinggi di Jawa Tengah; www.solopos,com
Dalam beberapa tahun terakhir ini Kota Solo tampak lebih semarak, selain karena banyaknya event berskala nasional maupun internasional yang semakin sering digelar, juga karena perkembangan fisik kota yang cukup pesat. Sejumlah hotel dan pusat perbelanjaan modern satu per satu hadir mewarnai berbagai sudut kota. Meski demikian pemerintah kota tidak melupakan konservasi terhadap pasar tradisional yang berjumlah 38 buah. Imej pasar tradisonal yang kotor dan kumuh sudah mulai berubah dengan upaya revitalisasi pasar tradisional yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir ini. Meski demikian masih tersisa sejumlah pasar yang memerlukan perbaikan, tentunya dengan tetap memperhatikan aspirasi dari pedagang pasar itu sendiri dan warga kota lainnya. Para pedagang kaki lima pun juga diatur agar tidak mengganggu keindahan kota. Salah satu keberhasilan yang cukup fenomenal adalah keberhasilan pemkot memindahkan 989 PKL pada tahun 2006 dari Monumen 45 Banjarsari ke Semanggi tanpa kekerasan dan kerusuhan sedikitpun, serta menempatkan mereka di sebuah pasar yang baru dibangun yang diberi nama Pasar Klithikan Notoharjo.
 
Pasar Nusukan; www.tripsolo.co.cc
Sektor pariwisata menunjukkan perubahan yang cukup berarti. Kini Solo telah menjadi salah satu tujuan wisata utama di Indonesia, meskipun memang masih jauh di belakang Bali dan Yogyakarta. Paling tidak upaya bersama dari para stakeholder telah terlihat membuahkan hasil. Ini terlihat dari penghargaan yang diterima Kota Solo sebagai salah satu kota tujuan wisata favorit dan kota dengan pelayanan terbaik. Potensi besar Solo di bidang pariwisata kini sudah mulai dikelola dengan baik. Selain menjadikan diri sebagai kota wisata budaya dan belanja, pemerintah kota juga mencanangkan Kota Solo sebagai kota MICE (Meeting, Incentive, Conference, and Exibition). Sekali lagi, Kota Solo berhasil masuk dalam daftar kota MICE utama di Indonesia. Dengan demikian semakin banyak wisatawan yang datang ke kota ini. Tak hanya untuk berlibur tapi juga untuk mengikuti kegiatan-kegiatan MICE yang digelar di Kota Solo.
 
Citywalk di Jalan Brigjen Slamet Riyadi; www.skyscrapercity.com
Di samping perkembangan di sektor perdagangan dan pariwisata, warga kota juga dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas perkotaan yang belum pernah ada sebelumnya. Di sepanjang Jalan Brigjen Slamet Riyadi misalnya, kini dibangun kawasan pedestrian yang luas dan panjang serta nyaman digunakan oleh pejalan kaki. Selain dilindungi oleh banyaknya pepohonan rindang di sepanjang jalan, dalam jarak tertentu dijumpai street furniture yang dapat digunakan untuk duduk-duduk santai ataupun melepas lelah setelah berjalan kaki. Kini, area yang populer disebut citywalk itu dilengkapi pula dengan hot spot area. Masih di area yang sama, memanfaatkan rel kereta api yang ada di sepanjang jalan itu, kini pemerintah kota telah menghadirkan kereta api wisata bernama kereta api Jaladara. Kereta ini merupakan kereta uap di masa lalu dan melintas tepat di tepi jalan utama kota, sehingga menjadi  suatu pemandangan yang tak pernah dijumpai di kota lain di Indonesia pada saat ini. Kini akan diluncurkan pula railbus jurusan Solo-Wonogiri yang akan melintas di tempat yang sama sebagai upaya awal merintis penggunaan transportasi massal di Kota Solo. Menurut rencana pemerintah kota akan membuat jalur lingkar dalam kota dengan angkutan berbasis rel ini, meski kebutuhan sarana transportasi seperti ini memang belum terlalu mendesak, tapi akan jauh lebih baik antisipasi dilakukan sejak awal daripada menunggu kemacetan parah terjadi lebih dulu. Ada pula bis tingkat wisata untuk mengajak wisatawan berkeliling kota dengan suasana yang berbeda. 
 
Railbus moda transportasi baru di Kota Solo; www.semboyan35.com
Program pembangunan citywalk di Jalan Brigjen Slamet Riyadi kini diterapkan pula di ruas jalan lainnya, untuk saat ini sudah dilakukan di Jalan Kapten Mulyadi dan Jalan Perintis Kemerdekaan meskipun belum selesai secara menyeluruh sesuai dengan yang direncanakan. Di samping pembangunan pedestrian di sejumlah ruas jalan, pemkot juga telah melakukan penataan di sepanjang Jalan Mayor Sunaryo, tepat di sebelah timur bundaran gladag. Setiap malam jalan itu ditutup untuk kendaraan dan seluruhnya digunakan sebagai pusat kuliner dan jajanan malam dengan nama Gladag Langen Bogan (Galabo). Menyusul kesuksesan Galabo pemkot juga membuat Ngarsopuro Night Market di sepanjang Jalan Diponegoro di depan pintu masuk Kraton Mangkunegaran. Berbeda dari Galabo, tempat ini lebih merupakan tempat penjualan pernak-pernik dan kerajinan khas Kota Solo dan digelar hanya pada malam minggu saja. Belakangan pemkot juga akan membangun walking street di sepanjang Jalan Gatot Subroto mulai dari perempatan pasar pon di Jalan Brigjen Slamet Riyadi hingga perempatan di depan Singosaren Plasa. Kawasan koridor Jalan Gatot Subroto sepanjang 400 meter ini akan mengalami penataan ulang. Kawasan tersebut nantinya akan mirip dengan Malioboro Yogyakarta , yang menampung Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan menjual berbagai dagangan unggulan, yaitu batik, craft dan oleh-oleh khas kota Solo. Bedanya jika di Malioboro siang dan malam hanya ada di pinggir jalan saja, maka di sini setiap malamnya jalan akan ditutup dan dikhususkan bagi pejalan kaki. Rencananya Ngarsopuro Night Market akan digeser ke tempat ini, sementara bekas tempat itu akan full dijadikan ruang publik. Selain pembangunan-pembangunan tersebut, pemkot juga telah menyulap sejumlah tempat menjadi taman dalam upaya penghijauan kota. Bahkan pemkot juga mendorong penggantian pagar beton menjadi pagar hijau, selain untuk menjadikan Solo sebagai eco cultural city, program ini juga untuk menambah ruang terbuka hijau di Kota Solo yang saat ini baru mencapai 18% dari luas ideal sebesar 30%.
 
Walikota Solo Joko Widodo; www.solopos.com
Adalah walikota Solo Ir. Joko Widodo yang akrab disebut Jokowi merupakan arsitek dari perkembangan pesat Kota Solo belakangan ini. Jokowi yang sebelumnya adalah pengusaha mebel ini sering bepergian ke luar negeri dalam urusan bisnisnya. Dari situlah Jokowi mendapatkan inspirasi untuk membangun Kota Solo seperti kota-kota di Eropa dan Singapura. Solo memang memiliki potensi untuk dikembangkan seperti kota-kota itu. Misalnya di bidang transportasi Solo merupakan pertemuan jalur kereta api dari empat arah yang berbeda, ke utara terhubung ke Semarang dan Jakarta, ke timur menuju ke Surabaya, ke selatan sampai Wonogiri, serta ke barat terhubung ke Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Kota ini juga memiliki empat buah stasiun yang masih beroperasi. Dengan potensi ini sarana transportasi massal berbasis rel akan lebih mudah untuk diwujudkan. Saat ini sudah ada kereta komuter dan jarak dekat yang menghubungkan Solo dengan kota-kota di sekitarnya seperti Yogyakarta, Madiun, Semarang, dan Kutoarjo. Bisa saja ke depannya dibuat kereta komuter jarak pendek yang melayani pergerakan penglaju dari kabupaten-kabupaten di sekitar kota Solo. Saat ini baru jurusan Solo-Wonogiri yang akan segera direalisasikan, bukan tidak mungkin nantinya dari Solo ke bandara dan  Boyolali dapat menggunakan kereta api, mengingat jalur itu sudah ada dalam rencana, bahkan jalur Solo-Boyolali sudah masuk dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah, bahkan bisa pula dilakukan pembangunan rel dari Stasiun Palur di timur Kota Solo hingga ke Karanganyar Kota, sehingga seluruh ibu kota kabupaten di wilayah hinterland Kota Solo dapat terhubung dengan kereta api, dengan demikian beban jalan raya dapat dikurangi. Selain itu di Solo banyak terdapat jalur lambat yang khusus digunakan oleh pengendara  sepeda dan becak, apalagi di Solo masih banyak orang yang menggunakan sepeda untuk bepergian. Hanya saja jalan kaki sepertinya belum menjadi budaya warga Solo, itu yang membedakan kota ini dengan Singapura. Namun, tentu saja semua itu butuh proses, dengan dibangunnya banyak jalur pedestrian yang nyaman diharapkan akan lebih banyak lagi warga Solo yang memilih berjalan kaki. Semoga dengan menjadikan kota-kota itu sebagai model akan membuat Kota Solo tumbuh dengan teratur dan semakin nyaman untuk ditinggali dan dikunjungi. Jangan sampai menjadikan Jakarta sebagai role model dalam pembangunan kota, karena Jakarta terbukti belum berhasil membangun kota yang nyaman terutama di bidang transportasi.

Share this article :

Poskan Komentar

Monggo bagi yang mau berkomentar, silakan mengisi kotak di bawah ini :)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yusuf Abdurrohman - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger