Syirik... Masihkah Kita Mengerjakannya?

Jumat, 08 Februari 20132komentar

Syirik menurut bahasa berarti menyekutukan atau menggandeng. Menurut istilah, syirik adalah menyamakan sesuatu selain Allah dengan Allah di dalam sesuatu yang hanya khusus bagi Allah. Kata syirik sendiri merujuk pada perbuatan yang dilakukan, sementara orang yang melakukan perbuatan syirik disebut musyrik.
Sumber gambar: http://shikitav.wordpress.com
Syirik merupakan dosa besar yang tidak diampuni dosanya. Allah berfirman di dalam Alquran Surat An Nisa’:48
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni bila Dia disyirikkan dan Dia mengampuni pada apa-apa (dosa) selain demikian itu (syirik) bagi orang yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang syirik kepada Allah maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

Syirik ada 2 macam, yaitu
1.      1.  Syirik akbar
Syirik akbar merupakan dosa besar yang dapat membawa pelakunya keluar dari Islam dan  kekal abadi selama-lamanya di dalam neraka apabila sampai meninggal tidak bertaubat.
Contoh syirik akbar antara lain
Ø  berdoa, bersujud, atau menyembah pada kuburan, patung, dll,
Ø meyakini secara penuh bahwa jimat, batu bertuah, dll dapat memberi manfaat atau kemudhorotan,
Ø  meyakini secara penuh bahwa dukun, peramal, dll dapat mengetahui peristiwa di masa depan, mengetahui letak barang yang hilang, dan lain sebagainya.
2.      2.  Syirik kecil
Syirik kecil tidak membuat seseorang keluar dari Islam tetapi mengurangi tauhid dan bisa menjadi perantara kepada syirik akbar.
Syirik kecil ada 2 macam:
a.      Syirik dhohir (nyata)
Syirik dhohir adalah syirik yang tampak dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Salah satu contohnya adalah bersumpah dengan nama selain Allah. Sebagai makhluk ciptaan Allah, kita hanya boleh bersumpah dengan nama Allah. Hanya Allah sendirilah yang boleh bersumpah dengan nama selain-Nya. Di dalam Alquran banyak dijumpai ayat-ayat yang berisi sumpah Allah dengan nama ciptaan-Nya. Contohnya:
Q.S. Al ‘Ashr: 1

Artinya: Demi masa
Q. S. Asy Syams: 1

Artinya: Demi matahari dan terangnya matahari 
b.     Syirik khofi (samar/tersembunyi)
Syirik khofi adalah syirik yang tidak tampak, karena berada di dalam hati. Jenis syirik inilah yang dikhawatirkan oleh Nabi akan dilakukan oleh umatnya. Nabi percaya umatnya tidak akan lagi menyembah berhala, tapi untuk menata hati agar terhindar dari syirik khofi kadang memang bukan perkara yang mudah. Contoh paling gampang dari syirik khofi ialah mengerjakan suatu amalan tertentu tetapi tidak diniati murni karena Allah, tidak diniati untuk mencari pahala, tidak diniati untuk melaksanakan perintah Allah. Bisa jadi seseorang mengerjakan amalan dengan tujuan riya’ (supaya dilihat orang lain) atau dengan tujuan untuk sum’ah ( supaya didengar oleh orang lain). Orang yang beramal tidak karena Allah tidak akan diberi pahala oleh Allah, justru dosa syiriklah yang didapat olehnya. Rugi bukan?
Sumber gambar: http://canvasforimagination.blogspot.com
Riya’ tidak hanya bisa dilakukan saat amalan dikerjakan, bisa pula saat orang yang bersangkutan membicarakan amalan tersebut dengan orang lain, dengan niat supaya dipuji atau hanya sekedar supaya orang lain tahu. Oleh karena itu, sebaiknya hindarilah menulis di jejaring sosial soal amal ibadah yang telah kita kerjakan. Misalnya, “Capek juga ya Sholat Dhuha’ 12 rekaat”.  atau “Tahajud dulu, ah.” dan lain sebagainya. Sebenarnya apa toh tujuan menuliskan hal-hal seperti itu di jejaring sosial? Walaupun toh diniati bukan untuk riya’ tapi terbiasa melakukan hal-hal seperti itu bisa menjerumuskan kita kepada riya’. Capek-capek mengerjakan amalan tapi tak mendapat pahala sedikitpun. Itu namanya muspro, tidak ada gunanya. Bukankah lebih baik bila kita tidak dianggap sebagai ahli ibadah tapi sebenarnya ahli ibadah, daripada dikenal sebagai ahli ibadah tapi sebenarnya tidak berpahala.
Satu hal lagi yang perlu kita waspadai terkait syirik adalah lagu-lagu yang liriknya mengandung syirik. Bisa jadi, karena asyik menyanyi lupa bahwa isi nyanyiannya syirik sehingga tanpa sadar kita sudah mengucapkan kata-kata syirik. Makanya kalau mau nyanyi pilih-pilih ya. :D Lagipula terlalu banyak menyanyikan lagu-lagu itu juga tidak baik. 
Nah... dengan begitu besarnya ancaman dan kerugian bagi orang yang berbuat syirik, maka hendaklah kita mengoreksi diri kita sendiri. Apakah selama ini kita masih mengerjakan syirik? Apakah amalan kita selama ini masih tercampur dengan syirik khofi?  Bagi pembaca yang mengenal saya, bila suatu saat menjumpai saya mengerjakan hal-hal diatas, mohon untuk mengingatkan saya. Karena, walaupun saya menulis seperti ini bukan berarti saya pasti bersih dari hal-hal di atas. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Selamat berintrospeksi. J

Share this article :

+ komentar + 2 komentar

7 Juni 2013 08.58

salam kenal mas yusuf. Alhamdulilah jaza kallahu khoiro info nya. Saya di MWB..
Di tunggu kunjungan balik nya.

7 Juni 2013 10.30

Salam kenal juga mas Ari, amin... Sering-sering maen ke sini ya :D insya Allah kapan-kapan saya maen ke situ juga. :)

Posting Komentar

Monggo bagi yang mau berkomentar, silakan mengisi kotak di bawah ini :)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yusuf Abdurrohman - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger