Tampung Hujan, Lestarikan Sumber Air

Senin, 11 November 20130 komentar


Musim penghujan telah tiba. Di saat hujan turun, sebagian orang merasa gembira karena rahmat Tuhan turun, sebagian lagi merasa was-was karena khawatir kebanjiran, dan sebagian lagi bersiap untuk terjebak macet di jalan. Ya… hujan yang turun seringkali menimbulkan genangan di jalan, sehingga menyebabkan lalu lintas menjadi terganggu, alhasil macet pun tak terelakkan. Apalagi di Jakarta, jika hujan deras turun saat jam pulang kantor di sore hari, kemacetan parah seringkali akan membuntutinya.
Idealnya, sebagian besar air hujan yang turun meresap ke dalam tanah dan sebagian lagi dibuang melalui saluran drainase menuju ke laut. Namun, berhubung sebagian besar lahan telah terbangun, yang terjadi justru sebaliknya, hanya sedikit air hujan yang terserap ke dalam tanah sementara sebagian besar lainnya terbuang begitu saja. Masih mending jika kapasitas saluran drainasenya cukup, kenyataan di lapangan, saluran drainase seringkali tidak mampu menampung air yang turun dalam jumlah besar, sehingga timbullah genangan air,  atau bahkan banjir.
Banjir di Bundaran HI, Jakarta
Sumber: al-khilafah.org
Air hujan yang meresap ke dalam tanah merupakan sumber  tersedianya air tanah yang diambil penduduk melalui sumur. Dalam kondisi dimana jaringan pipa PDAM belum menjangkau seluruh penduduk seperti sekarang, maka keberadaan air tanah merupakan sesuatu yang vital. Tanpa itu, maka penduduk akan kesulitan memperoleh air bersih untuk berbagai keperluan mereka. Akan tetapi, kini air tanah terus menerus dikuras, sementara air hujan yang menjadi pembaharunya hanya sebagian kecil saja yang bisa meresap ke dalam tanah. Akibatnya bisa dilihat secara kasat mata, banyak sumur-sumur penduduk yang mengalami kekeringan pada musim kemarau. Untuk tetap bisa mendapatkan air bersih, sebagian orang memperdalam sumur yang dimilikinya. Namun, sampai kapan upaya itu bisa dilakukan?
Tentu saja kita tak boleh menyerah dengan keadaan, banyak cara yang bisa dilakukan agar air hujan lebih banyak terserap ke dalam tanah. Tak usah jauh-jauh berpikir cara yang masif dan mahal, itu biarlah jadi domainnya pemerintah (kalau mereka mau memikirkan), seperti Pemprov DKI Jakarta misalnya, kini sedang menggiatkan pembangunan sumur resapan dengan anggaran miliaran rupiah. Bagaimana dengan kita? Apakah hanya berpangku tangan saja ataukah ingin turut serta berperan dalam upaya pelestarian air tanah? Nah… bagi rakyat biasa seperti  kebanyakan dari kita, cukuplah menggunakan cara yang mudah dan murah saja.  Kita bisa memulainya dari diri kita sendiri, dari lingkungan tempat tinggal kita sendiri, yang hasilnya bisa kita nikmati bersama orang-orang di sekitar kita. Jika saja semua orang mau mempraktekkannya, niscaya sebuah perubahan besar akan terjadi, tinggal masalah mau atau tidaknya saja.
Di antara yang bisa kita lakukan adalah dengan membuat biopori dan sumur resapan sederhana. Biaya pembuatannya terbilang murah. Apalagi jika dibuat sendiri atau dengan kerja bakti bersama warga sekampung, tentu bisa lebih murah lagi.  Untuk cara pembuatannya insya Allah akan saya tuliskan di lain kesempatan. Kebetulan bulan lalu ada kerja bakti pembuatan biopori di lingkungan tempat tinggal saya, jadi bahannya sudah ada, tinggal ditulis saja bila ada kesempatan.  Akan tetapi, untuk pembuatan sumur resapan sederhana mungkin masih lain kali lagi, nunggu kerja bakti pembuatan sumur resapan diadakan lagi, biar  bisa saya bikin reportasenya untuk Anda semua.  :)
Share this article :

Poskan Komentar

Monggo bagi yang mau berkomentar, silakan mengisi kotak di bawah ini :)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yusuf Abdurrohman - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger