Wisata Bencana Lumpur Lapindo

Kamis, 23 Januari 20141komentar


Akhir Desember lalu saya berkunjung ke rumah baru kakak saya di Sidoarjo, Jawa Timur. Kakak saya adalah satu dari sekian banyak korban Lumpur Lapindo yang harus angkat kaki dari rumahnya karena terdampak lumpur. Dalam bayangan saya sebelumnya, kawasan yang terkena lumpur sudah semakin meluas sehingga rumah kakak saya yang berada di sebelah barat jalan raya pun ikut terkena atau paling tidak sudah hampir kena, sehingga mau tidak mau harus pindah. Terakhir kali melihat lumpur pada September 2008 silam, tanggul sudah dibuat di sisi timur Jalan Raya Porong. Beberapa rumah dan toko yang terletak di sisi barat jalan sudah banyak yang dikosongkan. Mungkin setelah lima tahun berselang, kawasan terendam lumpur sudah semakin meluas mengingat hingga saat ini lumpur panas masih terus menyembur dari perut bumi.

Tak saya sangka ternyata rumah baru kakak saya tidak jauh-jauh amat dari rumah yang dulu. Lokasi yang sebelumnya sawah itu kini dibuat perumahan baru yang semuanya diisi oleh korban “gusuran” lumpur. Bedanya rumah yang lama berada di sebelah barat jalan raya tetapi masih di sebelah timur jalan tol sedangkan rumah yang baru berada di sebelah barat jalan tol, tak jauh dari Pusat Kerajinan Tas dan Kulit Tanggulangin. Memang logikanya jika tempat itu bakal terkena lumpur tentu jalan tol juga direlokasi. Ternyata jalan tol tetap di tempat yang sama, itu artinya lokasi tersebut memang dianggap cukup aman dari lumpur.  

Sore hari saya diajak berkeliling dengan sepeda motor melihat-lihat lokasi bekas rumah kakak saya di Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin. Di tempat tersebut, sebagian besar rumah sudah dikosongkan, beberapa sudah rata dengan tanah. Namun, masih ada juga yang tetap tinggal, entah memang tak mau pindah atau karena masih menunggu sampai rumah baru mereka siap dihuni. 

Tepat di depan rumah lama kakak saya, hamparan sawah tak begitu luas masih tampak menghijau. Tidak jauh dari situ terlihat sebuah fly over yang baru pertama kali itu saya lihat. Oh… ternyata itu adalah jalan baru yang dibangun untuk menggantikan Jalan Raya Porong. Heh… jalan barunya di situ? Langsung seketika saya berpikiran yang bukan-bukan, kalau dalam jarak yang sebegitu dekat dibangun jalan baru, kenapa penduduk di tempat ini harus pindah? Kalau memang bakal kena lumpur, kenapa juga dibangun jalan baru di situ? Pantes, ada beberapa orang yang enggan untuk pindah, nunggu harga tanah naik dulu baru mau pindah. Tapi ya... sudahlah, toh saya juga bukan penduduk situ, nggak begitu ngerti pula dengan kondisi yang sesungguhnya seperti apa. Cuma masih bertanya-tanya saja, hmm… .

Dari situ, kami langsung menuju ke tanggul lumpur. Tanggul yang dulu kering itu kini tampak menghijau. Tumbuhan liar tumbuh di sepanjang sisi luar tanggul.  Begitu pula dengan kawasan di sepanjang jalan raya, lima tahun lalu sempat terlihat seperti kota mati yang kering, kini daerah itu tampak lebih hidup dan hijau. Jalan Raya Porong walaupun sudah dibuatkan penggantinya juga masih tampak ramai.. Begitu pula dengan rel kereta di sisi timur jalan, tepat di depan tanggul lumpur, juga masih dilalui kereta. Sampai saat ini memang belum ada jalur rel penggantinya.

Suasana di atas tanggul lumayan ramai, banyak wisatawan yang datang untuk sekedar melihat-lihat lumpur dan berfoto-foto ria, tentu saja saya melakukan hal yang sama. :D Ada pula yang berjalan-jalan di atas lautan lumpur sampai jauh dari tanggul. Kondisi lumpur yang mengering memungkinkan bagi kita untuk berpijak. Entah apakah memang kondisinya selalu begitu atau tidak. Karena saat saya datang sudah beberapa hari tidak turun hujan, kurang tahu apakah setelah hujan masih bisa digunakan untuk berpijak atau tidak. 

Setelah puas melihat-lihat dan ambil foto-foto di situ, dengan tetap bersepeda motor kami bergerak ke arah selatan, tempat dimana monumen lumpur berada. Di situ tampak sebagian lumpur yang masih basah dan berair. Pusat semburan lumpur juga bisa terlihat jelas, ditandai dengan kepulan asap putih seperti yang dulu sering muncul di layar televisi. Dari atas tanggul saya turun sedikit ke lautan lumpur dimana di situ terdapat sebuah replika manusia berbaju kuning. Sure… you know who he is. :D Sampai di situ, tak lain dan tak bukan, tentu saja berfoto-foto lagi :D Kondisi di situ lumayan ramai, banyak wisatawan yang berfoto-foto, sementara di atas tanggu ada beberapa orang yang berjualan. Berikut ini foto-foto yang saya ambil saat di sana.


 
Gunung Arjuno 

 
tanggul lumpur tampak menghijau 

 
tiang bekas fly over Jalan Tol Surabaya-Gempol 

 
lumpur yang telah kering

 
lumpur yang masih basah 

 
 monumen peringatan


 
wisatawan berfoto-foto di dekat replika seseorang

Malam harinya saya diajak ke sebuah fly over yang melintas di atas jalan arteri baru. Di situ saya baru bisa menggambarkan peta daerah itu di dalam otak saya. Sebelumnya masih bingung, karena jalannya masih terasa asing, belum lagi ditambah dengan beberapa fly over dan underpass yang sempat saya lewati sebelumnya, serasa ada begitu banyak jalan di sana. Ternyata jalan baru itu akan dibuat mirip Jalan Gatot Subroto di Jakarta dimana jalan tol terletak di tengah jalan raya. Bedanya, menurut kakak ipar saya, di tengah jalan tol itu akan dibangun pula jalur kereta api. Pantes, saat lewat di sore hari kok jalur kanan dan kiri jalan arteri itu terpisah cukup jauh. 

Jalan arteri baru yang berpangkal di jalan arteri Surabaya-Malang, tepatnya di bundaran sebelah selatan Stasiun Tanggulangin akan bertemu dengan Jalan Tol Surabaya-Gempol lalu bergabung menjadi satu melintasi Kecamatan Porong dan berujung di Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Jadi di daerah itu nantinya akan ada 2 jalan arteri, 1 jalan tol, plus rel kereta api. Sip juga ya, inilah salah satu dampak positif bencana lumpur. :D  Berharap yang terbaik saja untuk Sidoarjo, semoga masalah lumpur segera tuntas dan pusat industri Jawa Timur ini bisa terus berkembang sebagai penyangga Kota Surabaya.
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

Anonim
6 Juni 2014 12.13

It's the best time to make some plans for
the future and it's time to be happy. I've
read this submit and if I could I desire to counsel you some attention-grabbing issues or
suggestions. Maybe you can write next articles referring to this article.
I want to learn more issues approximately it!

my blog post: Commercial Electricity

Posting Komentar

Monggo bagi yang mau berkomentar, silakan mengisi kotak di bawah ini :)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yusuf Abdurrohman - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger