Stasiun Solokota, Riwayatmu Kini

Kamis, 12 Juni 20140 komentar


Stasiun Solokota dengan  kode STA terletak di Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo. Oleh karena letaknya di Kelurahan Sangkrah, warga Solo biasa menyebutnya sebagai Stasiun Sangkrah. Stasiun Solokota merupakan stasiun termuda di antara 4 stasiun yang ada di kota Solo. Ketiga stasiun lain, yakni Stasiun Solobalapan, Purwosari, dan Solojebres semuanya dibangun pada abad ke-19, sementara Stasiun Solokota baru dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg-Mattschapij (NISM), sebuah perusahaan kereta api swasta, pada abad ke-20, ada yang menyebut pada tahun 1912, tetapi ada pula yang menyebut tahun 1922.
Selain itu, tidak seperti ketiga stasiun lainnya yang berada di jalur utama lintas selatan Pulau Jawa, Stasiun Solokota berada di jalur lokal Purwosari-Wonogiri. Pembangunan rel ke Wonogiri sendiri baru dilakukan pada tahun 1922. Dulunya jalur ini sampai ke kecamatan Baturetno di Kabupaten Wonogiri. Namun, kini jalurnya telah tertutup oleh pembangunan Waduk Gajah Mungkur, sehingga kereta hanya bisa berjalan sampai ke Kecamatan Wonogiri. 

 
Sumber  gambar: pangesti_solo, skyscrapercity.com


Sumber  gambar: pangesti_solo, skyscrapercity.com

Jalur rel antara Stasiun Purwosari hingga Solokota hampir seluruhnya berada tepat di tepi jalan raya, yakni Jalan Brigjen Slamet Riyadi (jalan protokol Kota Solo) dan Jalan Mayor Sunaryo. Dahulu, jalur ini merupakan jalur trem dalam kota Solo. Menurut Babad Sala yang ditulis oleh RM. Sajid, jalur trem dimulai dari depan Benteng Vastenburg hingga ke Stasiun Purwosari. Dari Stasiun Purwosari terdapat pula jalur trem ke arah barat hingga ke daerah Gembongan, Kartasura. Dari Gembongan terdapat jalur rel ke utara hingga Pabrik Gula Colomadu dan jalur rel ke barat hingga sampai ke Boyolali. Namun, jalur rel dari Purwosari ke arah barat itu kini sudah tertutup oleh perumahan dan pelebaran jalan. Jalur trem lain juga pernah ada mulai dari Gladak (depan Benteng Vastenburg) hingga Stasiun Solojebres. Pada saat jitu, kota Solo memiliki jalur rel melingkar di dalam kota seperti yang ada di Jakarta. Namun, jalur tersebut kini juga telah hilang tertutup jalan, sehingga saat ini tinggal jalur Purwosari-Solokota saja yang masih tersisa.  
Bulan lalu, saat pulang ke Solo, saya menyempatkan diri untuk blusukan ke Stasiun Solokota. Saya melihat-lihat kondisi sekitar stasiun hingga ke dalam peron stasiun. Secara umum kondisi stasiun kecil yang hanya memiliki 2 jalur ini terlihat cukup bersih dan rapi, tetapi warnanya terlihat kusam.  Tidak seperti stasiun-stasiun kecil lain yang saya lewati dalam perjalanan Jakarta-Solo, stasiun-stasiun tersebut umumnya terlihat terawat dengan warna cat yang khas. Mungkin karena memang stasiunnya yang sepi tanpa jadwal kereta reguler, sehingga masih dibiarkan dalam kondisi seperti itu. Kondisi ini berbeda dengan beberapa tahun lalu. Berikut ini adalah foto Stasiun Solokota beberapa tahun silam.

 
Sumber gambar: shaggy_solo 

 Sumber gambar: harianjogja

Bandingkan dengan kondisinya saat ini.

 Bagian depan Stasiun Solokota

 Stasiun Solokota dari dalam peron

 
Alat pelayan sinyal

Ruang PPKA dan Kepala Stasiun

Bangunan Stasiun Solokota dari dalam peron
Ada satu kejanggalan yang saya temui di sana, papan nama stasiun menunjukkan ketinggian yang berbeda. Papan nama di tengah yang menghadap ke peron tertulis SOLOKOTA +97, sementara papan nama di samping kanan dan kiri stasiun tertulis SOLO-KOTA +89, sedangkan di Wikipedia disebutkan +85. Entah mana yang paling benar, saya belum menemukan referensi yang paling bisa dipercaya.

 Papan nama di dalam peron


Papan nama di samping stasiun

Dulunya jalur Purwosari-Wonogiri dilewati oleh kereta Feeder Bengawan. Penumpang kereta Bengawan dari Jakarta yang tiba pada pagi hari turun di Purwosari lalu melanjutkan perjalanan ke Sukoharjo dan Wonogiri dengan kereta Feeder. Kereta Feeder ini hanya terdiri dari 1 lokomotif dan 2 gerbong. Selanjutnya pada siang hari kereta Feeder ini membawa penumpang dari Wonogiri dan Sukoharjo ke Purwosari untuk selanjutnya berangkat ke Jakarta pada sore hari. Namun, kereta Feeder Bengawan ini sudah lama tak lagi berjalan.

 Kereta Feeder melintas di Jalan Brigjen Slamet Riyadi
Sumber gambar: rezzahabibie on flickr
Pada masa kepemimpinan Jokowi sebagai Walikota Solo, beliau memunculkan beberapa ide untuk mengembalikan suasana masa lalu kota Solo. Salah satunya, Jokowi berhasil memboyong lokomotif kereta uap dari Museum Kereta Api di Ambarawa agar dapat berjalan melintasi bekas jalur trem di jantung kota Solo antara Purwosari hingga Solokota. Akan tetapi, kereta uap yang diberi nama Sepur Kluthuk “Jaladara” ini bukan ditujukan sebagai alat transportasi masyarakat, tetapi lebih sebagai salah satu atraksi pariwisata mengingat kereta ini  memiliki nilai keunikan tersendiri dan tentunya juga karena tiket untuk menaikinya yang mahal, yakni Rp 100 ribu per orang. Bisa juga dipesan secara paket untuk sekali jalan sebesar Rp 3 juta. Biaya operasional kereta ini memang cukup besar, sebab bahan bakar yang digunakan adalah kayu jati. 

 Sepur kluthuk Jaladara melintas di Jalan Brigjen Slamet Riyadi
Sumber gambar: wikipedia
Kehadiran sepur kluthuk ini cukup menarik perhatian masyarakat saat melintas. Bentuk kereta dan lokomotifnya yang jadul beserta suara khas yang dikeluarkannya membawa suasana tersendiri yang tidak ditemukan di tempat lain selain di kota Solo dan Padangpanjang, Sumatera Barat. Kereta ini seakan membangkitkan kembali kenangan masa lalu saat trem  berjalan menyusuri jalan utama kota.
Pada masa kepemimpinan Jokowi pula Kementerian Perhubungan memberikan hibah berupa railbus yang rencananya akan digunakan untuk melayani rute Purwosari-Wonogiri ini. Bahkan rel kereta sepanjang jalur itu telah diganti dengan yang baru. Namun, ternyata rencana tersebut kurang terencana dan terkoordinir dengan baik. Sebab, harga tiket yang diajukan PT KAI sebagai pengelola, yakni sebesar Rp 10 ribu dianggap terlalu mahal untuk jarak tempuh yang hanya sekitar 30-40 km ini. Sementara pemerintah kota tidak dapat memberikan subsidi untuk membantu membiayai operasional railbus. Sampai sekarang railbus yang diberi nama “Batara Kresna” ini belum juga berjalan melayani rute tersebut. Dengan demikian, praktis Stasiun Solokota hanya digunakan untuk pemberhentian sepur kluthuk saja, itupun tidak setiap hari.

 Railbus melintas di Jalan Brigjen Slamet Riyadi
Sumber gambar: kompasiana.com
Yah… mungkin karena memang tidak ada kereta yang lewat, sehingga siapapun bebas masuk ke dalam peron Stasiun Solokota. Bahkan stasiun ini biasa digunakan lalu lalang oleh penduduk sekitar untuk menuju ke pasar tradisional yang berada tepat di sebelah barat stasiun. Halaman depan stasiunpun digunakan untuk parkir kendaraan pedagang maupun pengunjung pasar tersebut. Jika saja tak ada sepur kluthuk, mungkin stasiun ini sudah sama sekali tak berfungsi. 
Beberapa waktu lalu sempat ada kabar tentang rencana pengaktifan kembali jalur Purwosari-Wonogiri. Entah apakah railbus akan segera dijalankan atau menggunakan kereta lain, saya pribadi hanya berharap jalur ini bisa kembali digunakan sebagai alternatif rute perjalanan Solo-Wonogiri. Dengan demikian, stasiun-stasiun di jalur tersebut, yakni Stasiun Solokota, Stasiun Sukoharjo, Stasiun Pasar Nguter, dan Stasiun Wonogiri bisa kembali aktif melayani masyarakat seperti di masa lalu.
Share this article :

Poskan Komentar

Monggo bagi yang mau berkomentar, silakan mengisi kotak di bawah ini :)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yusuf Abdurrohman - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger