Sekelumit Kisah Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta

Minggu, 21 Agustus 20160 komentar

Jakarta… sebagai ibukota negara dan pusat perekonomian Indonesia membutuhkan bandara yang representatif dan memadai untuk melayani penumpang yang jumlahnya mencapai puluhan juta orang setiap tahunnya. Penerbangan dari dan ke Jakarta saat ini dilayani oleh dua bandara, yakni  Bandara Soekarno-Hatta di Kota Tangerang dan Bandara Halim Perdana Kusuma di Jakarta Timur. Bandara Soekarno-Hatta merupakan bandara tersibuk di Indonesia, baik untuk penerbangan domestik maupun internasional. Bandara ini juga merupakan pintu gerbang utama Indonesia dan menjadi hub bagi penerbangan domestik. Sementara Bandara Halim Perdana Kusuma sebenarnya berstatus sebagai bandara militer, tetapi untuk sementara waktu digunakan pula untuk melayani penerbangan komersial demi mengurangi kepadatan di Bandara Soekarno-Hatta yang sudah mengalami over capacity.

Seiring dengan terus tumbuhnya jumlah penumpang, perlu dilakukan pengembangan bandara untuk dapat mengimbanginya. Pada bulan November 2012, PT Angkasa Pura (AP) II selaku pengelola Bandara Soekarno-Hatta mulai membangun Terminal 3 Ultimate (fase akhir dari Terminal 3) dengan kapasitas 25 juta penumpang per tahun, Nantinya terminal ini akan digabungkan dengan Terminal 3 eksisting yang ada di sebelahnya. Beberapa pejabat negara mulai dari menteri hingga Dirut APII sebelumnya sempat menggadang-gadang terminal ini akan mengalahkan Changi Airport di Singapura. Bahkan sempat beredar dokumen tertulisnya lhoh. Wow… jadi penasaran seperti apakah nantinya. Tentu saja ekspektasi masyarakat terhadap terminal baru ini pun menjadi cukup tinggi. Mungkin inilah saatnya Indonesia memiliki bandara yang setara dengan negara-negara tetangga.

Rendering Terminal 3 Ultimate 
Sumber: sindonews.com 

Tapi tunggu sebentar… menurut saya pribadi, daripada “menembak pihak lain” lebih elegan apabila kata-katanya diubah menjadi bahwa Terminal 3 ini akan menjadi yang terbaik di tingkat regional, se-Asia Tenggara misalnya. Apabila mau dibilang terbaik sedunia sepertinya masih mengawang-awang. Walaupun realitanya untuk menjadi yang terbaik di Asia Tenggara pun sebenarnya juga masih mengawang-awang, hehe… . Sebab bandara terbaik sedunia ya berada di Asia Tenggara ini, yakni Changi Airport di Singapura. Namun, paling tidak kata-kata tersebut tampak lebih elegan dan realistis. Coba bayangkan, ketika sudah digembar-gemborkan bakal mengalahkan Changi, otomatis orang akan membanding-bandingkannya dengan Changi, lalu kalo jadinya cuma mak plenyik gimana? haha… bakal ditertawakan orang Singapore dong nantinya, hehe… .

Lalu bagaimanakah hasil akhir dari Terminal yang dibangun dengan total biaya keseluruhan mencapai 10 triliun rupiah ini? Sebelumnya mungkin kita perlu mengingat-ingat, bahwa selama masa pembangunannya, foto-foto proyek terminal ini memang sering beredar di media sosial. Sepanjang pembangunannya yang hampir menelan waktu 4 tahun tersebut, banyak orang memantau perkembangan pembangunannya. Sejumlah harapan, kritik, dan saran pun dilontarkan agar terminal baru ini nantinya benar-benar memenuhi ekspektasi masyarakat. Ngalahin Changi loh… catat dan imagine that. Tentu bayangannya sudah tinggi-tinggi banget. Namun, semakin lama… semakin ke sini… kok apa yang terwujud tampak kurang sesuai dengan apa yang dijanjikan. Hmm… mak plenyik detected nih.

Rendering Terminal 3 Ultimate
Sumber: beritaduniaterbaru.com

Pada bulan Ramadhan lalu pihak APII berencana untuk mulai membuka Terminal 3 ini guna melayani arus mudik lebaran. Namun, Menteri Perhubungan saat itu, Ignasius Jonan, tidak  memberi izin pengoperasiannya lantaran masih ada beberapa hal penting yang belum dipenuhi, terkait aspek keselamatan, keamanan, dan pelayanan. Namun, beberapa pihak, bahkan Menteri hingga anggota DPR turut mendesak agar terminal tersebut segera dibuka. Alasannya perbaikan bisa dilakukan sembari jalan, terminal dapat dibuka secara bertahap. Namun, Menhub tetap bersikukuh untuk tidak memberikan izin. Akhirnya pembukaan terminal ini pun tertunda beberapa waktu sambil proyek masih terus berjalan. Eh… masih terus berjalan? Iya… memang belum beneran kelar proyeknya. 

Sebenarnya apa sajakah catatan dari Pak Jonan yang membuat terminal ini belum boleh dibuka? Sebenarnya cukup panjang lebar, tapi saya rangkum singkat saja sebagai berikut. (dikutip dari detik.com)

1.      Kesiapan layanan dan terminal
"Komentar saya pertama, kita maunya mengoperasikan secara sepenggal-sepenggal atau tidak? Kalau saya, fasilitas dasar harus terpenuhi. Laporan yang masuk ke saya tanggal 16 (Juni) akan dievaluasi, kalau siap ya siap, kalau nggak ya kita tunggu setelah operasi Lebaran selesai karena tidak boleh membuat risiko operasi Lebaran tidak berjalan lancar. Itu dari segi layanan," jelas Menhub Jonan. 
"Kalau dari segi terminal menurut saya kurang lebih siap. Kurang lebih yang dasar harus dibereskan sampai selesai. Kalau platform terminal, tidak boleh ada orang kerja. Kaya lift, eskalator itu harus jalan. Layanan dengan pesawat udara, saya belum lihat mainframe yang dipakai bagaimana, udah connect, udah trail dengan airline yang mau dipakai," imbuhnya. 
2.       Airside
"Airside begini ini kalo dari segi keselamatan penerbangan ada 2. Satu itu runway, taxiway, apron ini harus sekali lagi diperiksa dan disterilkan sebelum digunakan, supaya paling kurang tidak ada benda-benda asing di sana. Kalau ada benda kecil aja di runway, itu nggak boleh, bisa membahayakan take off dan landing. 
Terkait Air Traffic Control (ATC) semestinya semua pergerakan pesawat di apron bisa dipantau dari tower ATC, tetapi ternyata tidaak.
"Jadi pergerakan kendaraan, towing apalagi pergerakan pesawat dan orang sekalipun sehingga ini tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Contoh sederhana itu pesawat start engine itu tergantung perintah dari ATC, kalu belum perintah belum nyala," papar dia. 

Adapun rekomendasi dari Kemenhub agar terminal ini bisa segera dibuka, seperti dikutip dari kompas.com adalah sebagai berikut.
1.  Penggunaan peralatan Advanced Surface Movement Guidance and Control System (ASMGCS) level II untuk pelayanan aerodrome control tower pada maneuvering area (taxiway dan runway). Peralatan ASMGCS mampu melakukan fungsi pengamatan, prediksi, dan deteksi konflik lalu lintas pesawat udara serta kendaraan yang beroperasi di maneuvering area, termasuk wilayah maneuvering dan movement area yang tidak dapat terlihat secara kontak visual mata dari main tower existing.
2.    Penyediaan subtower untuk pengaturan lalu lintas pesawat udara kendaraan di apron G T3 oleh unit Apron Movement Control (AMC).
3.  APII dan AirNav Indonesia diminta menyediakan personel yang kompeten, yaitu personel AMC, pemandu lalu lintas, dan personel teknik telekomunikasi penerbangan.
4.   Penyediaan Standard Operating Procedure (SOP), diantaranya yaitu prosedur untuk identifikasi lalu lintas pesawat udara dan kendaraan di atau dekat maneuvering area dengan menggunakan peralatan ASMGCS. Selain itu diperlukan juga prosedur koordinasi antara unit main tower existing dengan unit subtower terkait pengaturan lalu lintas pesawat udara dan kendaraan di maneuvering area dan apron.
5.    Penyediaan marka dan rambu pada centerline runway dan taxiway sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagian Dalam Terminal 3 Ultimate
Sumber: detik.com

Sekitar satu bulan kemudian, tepatnya pada 27 Juli 2016, Presiden Jokowi melakukan reshuffle kabinet. Salah satu menteri yang diganti adalah Menteri Perhubungan dan yang menggantikannya, wow wow wow…!! Agak was-was saya mendengarnya, terutama terkait dengan Terminal 3 ini. Bukan bermaksud apa-apa, tapi beliau kan sebelumnya adalah Dirut APII, jadi dari sebelumnya pengelola langsung menjadi regulator. Dan benar saja, 2 hari menjabat, Menhub baru menyatakan Terminal 3 sudah layak dibuka dan bisa mulai beroperasi pada 9 Agustus 2016. Menurutnya, kesiapan terkait keselamatan, keamanan, dan pelayanan seluruhnya telah dipenuhi.

Akhirnya, pada hari Selasa, 9 Agustus 2016 Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta resmi beroperasi dengan dipindahkannya pelayanan rute domestik maskapai Garuda Indonesia dari Terminal 2F ke terminal ini. Jika sebelumnya kritik-kritik yang datang hanyalah dari orang-orang yang sekedar menjadi pengamat. Maka setelah beroperasi mulailah kritik dan curhatan dari para pengguna berdatangan. Kritik dari para pengguna yang secara langsung datang ke lokasi tentu lebih mendekati kenyataan daripada kritik dari para pengamat yang sekedar baru melihat foto atau videonya saja.  Lalu, apa sajakah kritikan dari mereka? Apakah kritik dari para pengamat sama dengan kritik dari para pengguna? Tunggu di postingan selanjutnya. :D
Share this article :

Posting Komentar

Monggo bagi yang mau berkomentar, silakan mengisi kotak di bawah ini :)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yusuf Abdurrohman - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger